Skip to main content

H O M E

Bagi sebagian orang, rumah adalah sebuah bangunan untuk tempat tinggal. Bagi sebagian lainnya rumah bukan hanya sekedar bangunan untuk ditinggali, namun juga kenyamanan yang belum tentu bisa dirasakan di tempat lain. Mungkin ini juga alasan kenapa orang akan pulang seberapa jauh mereka berpergian, yah...selain karena rumah adalah tujuan mutlak untuk pulang, mungkin?

Di suatu waktu, kita menemukan rumah bukan bangunan dengan beberapa sekat ruang yang dilengkapi ventilasi, pintu, dan jendela. Suasana rumah bisa melekat dalam diri seseorang. Mungkin dari tatapan teduh matanya, lembut senyumnya, atau renyah tawanya. Kita akan nyaman merumah di sana; saat sedih, kita merumah di pundaknya sebagai sandaran. Saat bahagia, kita akan memeluknya, menempelkan kepala ke dadanya, mendengarkan degupan jantungnya. Ia tak pernah jadi alasan kita menangis, tapi jari-jarinya selalu sedia menghapus air mata kita. Ia bukan alasan kenapa kita mengalami sesuatu yang buruk hari ini, tapi dengan tulus menyediakan telinganya mendengar. Ia menjadi tujuan setelah semua yang kita alami, pemberhentian terakhir setelah semua yang kita lewati.

Setiap pagi kita membuka hari dengan saling mengucapkan "selamat pagi, semoga apa yang kamu kerjakan hari ini berjalan dengan baik. Tuhan memberkati." dan menutup hari dengan saling menanyakan "Apa yang sudah kamu alami hari ini?" Jika hari itu buruk, maka kita akan saling menyemangati. Jika semua berjalan dengan baik, kita akan akan mengobrol sampai tak sadar mengantuk lalu tertidur. 

Kita terlalu nyaman hingga menganggap seseorang menjadi sebuah "rumah," hingga tak sadar bahwa mereka juga manusia. Dan manusia berubah. Dalam beberapa hal kita bisa mengontrol perubahan yang terjadi pada diri sendiri. Tapi mengontrol perubahan orang lain, bahkan seberapa pun ingin yang kita punya, tak akan cukup untuk mencegah satu perubahan yang...kalau memang pada kenyataannya mereka berubah, lalu kita bisa apa? Setiap orang berubah dan belum tentu orang di sekitarnya bisa menyesuaikan. Barangkali itu salah satu alasan mengapa beberapa orang tak bisa bersama seterusnya? Karena tak bisa menahan perubahan yang terjadi, mungkin?

Lagi pula, orang hidup dengan beberapa peran yang dijalani. Menjadi yang sangat berarti bagi kita adalah salah satunya. Lalu dengan dia dan peran yang lainnya, memang pada siapa dan yang mana kita bisa percaya sepenuhnya? 

Dia adalah yang kita sayangi. Tapi bukan "rumah"



Rumah seseorang  ialah dirinya sendiri....


Comments

Popular posts from this blog

Seperti Apa Rupa Cinta

Seperti apa rupa cinta? Kau kemudian menyinggung tentang rumahmu di kampung halaman, tempat segala sesuatu berawal. Kau menceritakan bagaimana seorang bayi memulai kehidupan dari gendongan Ibunya hingga Ia beranjak pergi menghadapi sendiri dunia nyata.   Lalu apakah cinta adalah sepasang tangan yang menimangmu di hari pertama kau datang ke dunia dan merawatmu hingga hari ini kau berada? Kau meninggalkan rumah dan pergi mencari jawaban ke kota-kota besar, mulai berkenalan dengan segala kesibukan dan kesenangan yang membuatmu jarang pulang.  Sesekali kau memberi kabar singkat Ibumu dan menerima doa-doa baik sebagai jawaban.  Di lain waktu, kesempatan membawamu ke tempat yang lebih tinggi. Kau bisa menikmati segala indah dan gemerlap yang ada di bawah sana, lebih luas dari yang sebelumnya bisa kau jangkau. Kini, jangankan pulang, kabarmu seringkali hanya menjadi kemungkinan belaka. Dalam perjalanan hidup, tahun-tahun berlalu semakin membentuk matang dirimu.  Kau me...

Precipice

Of all days in August Of all the random talks Of all the time we spent amidst your busy schedule Of all the unspoken words during our lunch together Of all the unsent messages of  "how was your day?" Going deeper into the detached connection and affection,  the missing  profound and meaningful conversation, the endless emptiness and pain, and every hug and touch that should've felt like coming home Now, for  the thousand times, still leaves me wondering  if every relationship has its own precipice, what kind of precipice is manifesting ours? Kelapa Gading, 4th September 2023 When August slipped away into a moment in time and you weren't mine to lose

2:1

Betapa aneh ingatan itu tiba-tiba ia memantik kenangan  di masa lalu. Sudah lama bukan,  waktu kita saling berbagi hari? Waktu kumulai pagiku  dengan menyeduhkanmu kopi; rutinitas yang bukan hanya kuhapal dalam kepala tapi juga dalam hati. Selalu dua banding satu,  takaran kopi dan gulamu.  Selalu bertambah satu,  beban ingatanku melupakanmu.  Jakarta, 3 September