Seperti apa rupa cinta?
Kau kemudian menyinggung tentang rumahmu di kampung halaman, tempat segala sesuatu berawal. Kau menceritakan bagaimana seorang bayi memulai kehidupan dari gendongan Ibunya hingga Ia beranjak pergi menghadapi sendiri dunia nyata.
Lalu apakah cinta adalah sepasang tangan yang menimangmu di hari pertama kau datang ke dunia dan merawatmu hingga hari ini kau berada?
Kau meninggalkan rumah dan pergi mencari jawaban ke kota-kota besar, mulai berkenalan dengan segala kesibukan dan kesenangan yang membuatmu jarang pulang. Sesekali kau memberi kabar singkat Ibumu dan menerima doa-doa baik sebagai jawaban.
Di lain waktu, kesempatan membawamu ke tempat yang lebih tinggi. Kau bisa menikmati segala indah dan gemerlap yang ada di bawah sana, lebih luas dari yang sebelumnya bisa kau jangkau. Kini, jangankan pulang, kabarmu seringkali hanya menjadi kemungkinan belaka.
Dalam perjalanan hidup, tahun-tahun berlalu semakin membentuk matang dirimu.
Kau memutuskan pulang dan seketika kau injakkan kaki di pekarangan rumahmu, kau menemukan sosok Ibu duduk di ruang tamu dengan siaran televisi kesukaannya. Kau bisa melihat punggungnya yang tak setegar dulu dan rambutnya yang tak sehitam sejak terakhir kali kalian bertemu.
Ibu menyambutmu dengan pelukan yang masih sama hangatnya, tanpa peduli menanyaimu dari mana. Baginya, yang penting sekarang Kau pulang.
Dalam perjalanan hidup, tahun-tahun berlalu dan seseorang bisa rapuh termakan usia. Tapi tidak dengan cintanya dan caranya mencintai. Kau selalu menjadi seorang anak bagi Ibumu, yang selalu dicintai dengan cara terbaiknya.
Seperti apa rupa cinta? Kembalilah ke tempatmu berasal.
Comments
Post a Comment