Skip to main content

Posts

Showing posts from 2021

Berdamai dengan Luka

Selamat pagi Kamu yang  di sana,  Sengaja tak Kutanyakan kabar karena Aku tahu kamu pasti baik-baik saja. Semoga Aku tidak salah ya... Yah kalaupun Aku salah, mengutip Raisa dalam salah satu lagunya, "benar atau salah kini tiada lagi berarti." Hari ini aku kembali menulis untukmu karena di luar sedang turun hujan. Aku bahkan tak tahu apa korelasinya, mungkin lain kali Aku akan berusaha lebih kreatif.  Setiap pagi hariku masih seperti biasa, menyapa dengan cerita yang ada-ada saja. Kadang aku mengomel, seperti yang kamu sering dengar dulu. Kadang aku tertawa karena candaan receh, kadang bersedih, kadang hanya terdiam dan kadang masih merindukanmu. Untuk yang terakhir itu aku pernah bersikeras menepisnya, tapi kamu malah muncul di mana-mana; sia-sia.  Aku pernah membaca bahwa kesedihan dan kehilangan, bagaimanapun tidak dapat mengembalikan hidup seperti semula, ke timeline sebelum dua atau salah satu hal tersebut terjadi. Seiring waktu, seseorang akan berdamai dan ras...

Pada kisah yang Telah Selesai

Pada kisah yang telah selesai, hati menolak untuk tak merasa kecewa pun ingatan tak mau berkhianat dengan melupakan.   Bagaimana kau bahkan sama manisnya dengan pertemuan pertama saat sekarang mengucap perpisahan? Lalu seperti dijatuhi hukuman,  jemariku mengabadikan kita dalam bait-bait puisi patah hati terhebat.  Aku ingin memakimu dengan kata-kata paling menyakitkan alih-alih memohon agar kau tetap tinggal. Aku ingin menghujanimu dengan sumpah serapah alih-alih  mendoakan kau senantiasa berbahagia.   Aku ingin me ngutuk atas setiap waktu dan pertemuan alih-alih  mengungkapkan kalimat-kalimat cinta.  Pada kisah yang telah selesai,  aku mencoba merangkul kembali realita.   Sebab sekeras apapun berusaha menyelamatkan diri,  kau tetaplah yang pertama menyaksikanku gagal berkali-kali.  

Dialog: Dua yang Bertemu Kembali

Pic. fr: Google search    "Kamu Apa kabar?" "Baik. Kalau kamu apa kabar?" "Biasa aja, nih." "Jadi, sedang baik atau tidak baik?" "Hahaha ..maksudku, sedang tidak ada hal menarik terjadi di hidupku." "Tidak ada? setelah dia?"   "Bukan melulu segala suatu hal dia jadi penyebab satu-satunya, tapi ya memang ada yang berbeda di hari-hariku setelah nggak lagi sama dia." "Jadi?" "Aku baik-baik saja." "Syukurlah kalau begitu." "....." "....." "Kamu sendiri, gimana dengan pria yang terakhir kali kamu ceritakan?" "Tidak ada yang berubah." "Kamu masih mengharapkannya?" "Bukan. Maksudku, kami tetap berpisah." "Hahahaha....sinting." "Dih, ngatain." "Kalau begitu posisinya di hatimu sudah bergeser?" "Tentu. Seiring berjalannya waktu." "Kamu sudah melupakannya?" "Kecuali jika aku amnesia, ...

Seperti Apa Rupa Cinta

Seperti apa rupa cinta? Kau kemudian menyinggung tentang rumahmu di kampung halaman, tempat segala sesuatu berawal. Kau menceritakan bagaimana seorang bayi memulai kehidupan dari gendongan Ibunya hingga Ia beranjak pergi menghadapi sendiri dunia nyata.   Lalu apakah cinta adalah sepasang tangan yang menimangmu di hari pertama kau datang ke dunia dan merawatmu hingga hari ini kau berada? Kau meninggalkan rumah dan pergi mencari jawaban ke kota-kota besar, mulai berkenalan dengan segala kesibukan dan kesenangan yang membuatmu jarang pulang.  Sesekali kau memberi kabar singkat Ibumu dan menerima doa-doa baik sebagai jawaban.  Di lain waktu, kesempatan membawamu ke tempat yang lebih tinggi. Kau bisa menikmati segala indah dan gemerlap yang ada di bawah sana, lebih luas dari yang sebelumnya bisa kau jangkau. Kini, jangankan pulang, kabarmu seringkali hanya menjadi kemungkinan belaka. Dalam perjalanan hidup, tahun-tahun berlalu semakin membentuk matang dirimu.  Kau me...

Hujan Hari ini

Hari ini hujan turun, menandai kepergianmu yang tak lagi terhitung hari.  Rintiknya deras. Mereka bak satu per satu rindu yang pasrah jatuh ke tanah; aromanya mengingatkanku yang nyatanya tak pernah melupakanmu sejak hari ke satu.  Aku masih berjuang mendengar sepotong kabar darimu. Masih berusaha membiasakan diri dengan ketiadaan dan keinginan memelukmu; rentang kedua tanganmu pernah selalu menyambutku dan menjadi selimut paling hangat yang menepis segala resah dan hilang arah. Satu jam hujan turun. Mengalirkan kehampaan menuju pekarangan rumah yang sunyi. Menggenang, lalu meresap menghidupi akar-akar cemas dan sedih.  "Semua yang ada padamu akan baik-baik saja" katamu waktu itu. Semua yang ada padaku hanya perlu kau rengkuh. Cepat pulang dan tinggal lebih lama kali ini.                

The Sparks

Mixology, 2020   I don't believe in love at the first sight. But those bright eyes that speak before his lips bid even a word. I don't believe in sparks, they'll fade over time. But every time he smiles, I know there's part of my heart that has been stolen.  I don't believe in an easy love. I don't want to merely fall for him. But his laughter and the way he talks, I couldn't wish anything better than to hear his voice.  I don't easily believe in my heart. Heart's deceitful. But the way it always questions his presence,  I know it would've been nice to have him around.  I believe I could go on many dates with different ending. He's out of ordinary, yet mystery box has never been my favorite. 

Closure

The world might move on over my sleepless night. Days passed by running over my tired eyes.  They said, time heals. Well, it does. It's just a matter of time, yes?  To eventually come to a realization, To find myself a bit of acceptance.  It was when I slept last night I dreamed of you, I thought I really missed us yet I saw you kissed another girl.  The dream was a sign, that I am no longer your concern.

Fight or Flee

  If you asked me,  what is the most evil thing in this world?  I would say,  it is "time" It won't let you to just stop and go back.  You'll just get through whatever life gives you, no matter how crazy it might be.   Moving on can't wait you.  You don't have much time to get done with just one thing.  Take a break,  deal with it and have courage.  Fight not flee.