Skip to main content

Posts

Showing posts from July, 2021

Dialog: Dua yang Bertemu Kembali

Pic. fr: Google search    "Kamu Apa kabar?" "Baik. Kalau kamu apa kabar?" "Biasa aja, nih." "Jadi, sedang baik atau tidak baik?" "Hahaha ..maksudku, sedang tidak ada hal menarik terjadi di hidupku." "Tidak ada? setelah dia?"   "Bukan melulu segala suatu hal dia jadi penyebab satu-satunya, tapi ya memang ada yang berbeda di hari-hariku setelah nggak lagi sama dia." "Jadi?" "Aku baik-baik saja." "Syukurlah kalau begitu." "....." "....." "Kamu sendiri, gimana dengan pria yang terakhir kali kamu ceritakan?" "Tidak ada yang berubah." "Kamu masih mengharapkannya?" "Bukan. Maksudku, kami tetap berpisah." "Hahahaha....sinting." "Dih, ngatain." "Kalau begitu posisinya di hatimu sudah bergeser?" "Tentu. Seiring berjalannya waktu." "Kamu sudah melupakannya?" "Kecuali jika aku amnesia, ...

Seperti Apa Rupa Cinta

Seperti apa rupa cinta? Kau kemudian menyinggung tentang rumahmu di kampung halaman, tempat segala sesuatu berawal. Kau menceritakan bagaimana seorang bayi memulai kehidupan dari gendongan Ibunya hingga Ia beranjak pergi menghadapi sendiri dunia nyata.   Lalu apakah cinta adalah sepasang tangan yang menimangmu di hari pertama kau datang ke dunia dan merawatmu hingga hari ini kau berada? Kau meninggalkan rumah dan pergi mencari jawaban ke kota-kota besar, mulai berkenalan dengan segala kesibukan dan kesenangan yang membuatmu jarang pulang.  Sesekali kau memberi kabar singkat Ibumu dan menerima doa-doa baik sebagai jawaban.  Di lain waktu, kesempatan membawamu ke tempat yang lebih tinggi. Kau bisa menikmati segala indah dan gemerlap yang ada di bawah sana, lebih luas dari yang sebelumnya bisa kau jangkau. Kini, jangankan pulang, kabarmu seringkali hanya menjadi kemungkinan belaka. Dalam perjalanan hidup, tahun-tahun berlalu semakin membentuk matang dirimu.  Kau me...

Hujan Hari ini

Hari ini hujan turun, menandai kepergianmu yang tak lagi terhitung hari.  Rintiknya deras. Mereka bak satu per satu rindu yang pasrah jatuh ke tanah; aromanya mengingatkanku yang nyatanya tak pernah melupakanmu sejak hari ke satu.  Aku masih berjuang mendengar sepotong kabar darimu. Masih berusaha membiasakan diri dengan ketiadaan dan keinginan memelukmu; rentang kedua tanganmu pernah selalu menyambutku dan menjadi selimut paling hangat yang menepis segala resah dan hilang arah. Satu jam hujan turun. Mengalirkan kehampaan menuju pekarangan rumah yang sunyi. Menggenang, lalu meresap menghidupi akar-akar cemas dan sedih.  "Semua yang ada padamu akan baik-baik saja" katamu waktu itu. Semua yang ada padaku hanya perlu kau rengkuh. Cepat pulang dan tinggal lebih lama kali ini.