Skip to main content

Siapa Takut Jatuh Cinta

Bukan. Saya bukan mau bikin sinetron. Bukan juga mau review sineton. Tapi asli yah, judul postnya dangdut banget!

Saya hanya ingin berbagi beberapa pemikiran saya soal hubungan asmara. 

Bukan tidak mau, saya hanya belum mampu.

Begini...
Bukan mencari-cari alasan, namun memang pada kenyataannya saya tumbuh ditengah keluarga yang orang tuanya berpisah. Kemudian beranjak dewasa, cerita-cerita perpisahan itu kerap saya dengar dari orang-orang disekitar. Saya dengar teman saya putus cinta, terjebak dalam hubungan yang salah dan menyiksa diri sendiri bahkan hingga batal nikah. Alasannya mulai dari dikhianati pasangan sampai hati  yang sudah berubah. Human has a tendency to easily change their mind dan saya belum siap untuk menghadapi itu;

We can't change people and at the same time we also realize, we can't make people to stay with us forever, can we?

Beberapa kali orang menyinggung status saya (yang masih belum punya pacar). Terus terang, saya tidak pernah ambil pusing dengan omongan mereka. Segala semoga yang baik saya aminkan, selebihnya cukup saya berikan senyuman. Saya sedang lelah dengan hubungan asmara. Saat ini, saya hanya ingin berteman dan fokus menata hidup. Pekerjaan yang stressful dan menyita waktu juga sering membuat saya merindukan quality time dengan diri sendiri atau dengan keluarga. Saya belum siap untuk mengundang satu orang lagi terlibat dalam penat hari-hari yang saya jalani, bahkan kadang bisa membuat saya merasa jauh dari diri sendiri.

Namun di atas itu semua, bukan berarti saya menutup hati untuk selamanya. Saya hanya sedang ingin beristirahat dari segala bentuk kemungkinan patah hati dan dari keharusan menyisakan sepotong space di otak saya untuk memikirkan seseorang. Saya ingin menyiapkan diri supaya suatu saat ketika bertemu orang yang dirasa tepat, saya sudah mampu untuk menjalin hubungan dengan dia.  




Comments

Popular posts from this blog

Seperti Apa Rupa Cinta

Seperti apa rupa cinta? Kau kemudian menyinggung tentang rumahmu di kampung halaman, tempat segala sesuatu berawal. Kau menceritakan bagaimana seorang bayi memulai kehidupan dari gendongan Ibunya hingga Ia beranjak pergi menghadapi sendiri dunia nyata.   Lalu apakah cinta adalah sepasang tangan yang menimangmu di hari pertama kau datang ke dunia dan merawatmu hingga hari ini kau berada? Kau meninggalkan rumah dan pergi mencari jawaban ke kota-kota besar, mulai berkenalan dengan segala kesibukan dan kesenangan yang membuatmu jarang pulang.  Sesekali kau memberi kabar singkat Ibumu dan menerima doa-doa baik sebagai jawaban.  Di lain waktu, kesempatan membawamu ke tempat yang lebih tinggi. Kau bisa menikmati segala indah dan gemerlap yang ada di bawah sana, lebih luas dari yang sebelumnya bisa kau jangkau. Kini, jangankan pulang, kabarmu seringkali hanya menjadi kemungkinan belaka. Dalam perjalanan hidup, tahun-tahun berlalu semakin membentuk matang dirimu.  Kau me...

Precipice

Of all days in August Of all the random talks Of all the time we spent amidst your busy schedule Of all the unspoken words during our lunch together Of all the unsent messages of  "how was your day?" Going deeper into the detached connection and affection,  the missing  profound and meaningful conversation, the endless emptiness and pain, and every hug and touch that should've felt like coming home Now, for  the thousand times, still leaves me wondering  if every relationship has its own precipice, what kind of precipice is manifesting ours? Kelapa Gading, 4th September 2023 When August slipped away into a moment in time and you weren't mine to lose

2:1

Betapa aneh ingatan itu tiba-tiba ia memantik kenangan  di masa lalu. Sudah lama bukan,  waktu kita saling berbagi hari? Waktu kumulai pagiku  dengan menyeduhkanmu kopi; rutinitas yang bukan hanya kuhapal dalam kepala tapi juga dalam hati. Selalu dua banding satu,  takaran kopi dan gulamu.  Selalu bertambah satu,  beban ingatanku melupakanmu.  Jakarta, 3 September