Skip to main content

Merasa Lelah itu Manusiawi

Akhirnya setelah beberapa bulan saya anggurin, bisa kembali lagi menulis di sini. 

Saya hanya mau menumpahkan sebagian kecil kelelahan saja kali ini, karena beberapa hal yang terjadi belakangan ini, cukup menguras emosi. Entah dengan apa yang dikerjakan atau dengan orang-orang yang saya hadapi di pekerjaan (beberapa dari mereka luar biasa baik, sisanya cukup. cukup membuat saya capek...hahahaha).

Setiap hari berusaha untuk selalu survive dari hal-hal negatif dan hari-hari yang berat bukan hal mudah bagi saya. Tak jarang saya kalah dengan rasa kecewa atau rasa sedih. Tapi disitu lah tantagannya; sebuah seni menerima. Menerima jika segala sesuatu tidak selalu bisa berjalan sesuai dengan rencana, menerima bahwa diri sendiri juga mempunyai batas, menerima kalau tidak semua orang bisa berterima dengan apa yang kita lakukan. Merasa lelah itu manusiawi, kan?

Boleh lah kita merasa lelah dan menyerah dengan keadaan yang terjadi di sekitar kita. Tapi lebih dari itu semua, saya selalu menekankan pada diri sendiri; jangan karena sedang tidak sepakat dengan keadaan, menjauhkan saya dari rasa bersyukur. Rasa kecewa saya hanya punya waktu 24 jam, setelah itu saya harus bangkit lagi mengerjakan hal lain. Kenyataannya, hari-hari berat itu ada dan saya bisa merasa hidup melalui masalah-masalah yang saya hadapi.

Setiap kali kita merasa ingin menyerah, ingat bahwa hidup bukan hanya punya kesedihan. Kita pernah tertawa lepas dan bahagia menjalaninya.

Jadi, masih mau terpaku pada satu kekecewaan yang sia-sia padahal hidup jalan terus? tagihan dan cicilan apa lagi :)





Comments

Popular posts from this blog

Seperti Apa Rupa Cinta

Seperti apa rupa cinta? Kau kemudian menyinggung tentang rumahmu di kampung halaman, tempat segala sesuatu berawal. Kau menceritakan bagaimana seorang bayi memulai kehidupan dari gendongan Ibunya hingga Ia beranjak pergi menghadapi sendiri dunia nyata.   Lalu apakah cinta adalah sepasang tangan yang menimangmu di hari pertama kau datang ke dunia dan merawatmu hingga hari ini kau berada? Kau meninggalkan rumah dan pergi mencari jawaban ke kota-kota besar, mulai berkenalan dengan segala kesibukan dan kesenangan yang membuatmu jarang pulang.  Sesekali kau memberi kabar singkat Ibumu dan menerima doa-doa baik sebagai jawaban.  Di lain waktu, kesempatan membawamu ke tempat yang lebih tinggi. Kau bisa menikmati segala indah dan gemerlap yang ada di bawah sana, lebih luas dari yang sebelumnya bisa kau jangkau. Kini, jangankan pulang, kabarmu seringkali hanya menjadi kemungkinan belaka. Dalam perjalanan hidup, tahun-tahun berlalu semakin membentuk matang dirimu.  Kau me...

Precipice

Of all days in August Of all the random talks Of all the time we spent amidst your busy schedule Of all the unspoken words during our lunch together Of all the unsent messages of  "how was your day?" Going deeper into the detached connection and affection,  the missing  profound and meaningful conversation, the endless emptiness and pain, and every hug and touch that should've felt like coming home Now, for  the thousand times, still leaves me wondering  if every relationship has its own precipice, what kind of precipice is manifesting ours? Kelapa Gading, 4th September 2023 When August slipped away into a moment in time and you weren't mine to lose

2:1

Betapa aneh ingatan itu tiba-tiba ia memantik kenangan  di masa lalu. Sudah lama bukan,  waktu kita saling berbagi hari? Waktu kumulai pagiku  dengan menyeduhkanmu kopi; rutinitas yang bukan hanya kuhapal dalam kepala tapi juga dalam hati. Selalu dua banding satu,  takaran kopi dan gulamu.  Selalu bertambah satu,  beban ingatanku melupakanmu.  Jakarta, 3 September