Tulisan ini hanya untuk sekadar mengurangi sedikit beban di kepala saja, bukan bermaksud mengirim kode pada siapa pun. Tapi kalau kamu merasa, ya sudah......tetap saja ini bukan tentang kamu.
Setelah hari itu kamu tidak henti-hentinya memenuhi kepala saya, saya tidak cukup bodoh menyadari kalau memang iya saya punya perasaan khusus terhadap kamu. Setelah tiga tahun, merasakan kembali mempunyai seseorang yang mengisi hati jadi terasa lucu; Tiba-tiba saya menemukan diri saya ingin berada di ruangan yang sama dengan ruanganmu ketika jam kerja. Kesempatan saya melihat kamu adalah waktu yang....saya rela meninggalkan kesibukan saya sejenak hanya untuk melihat sepintas kamu. Bertemu malu, tidak bertemu rindu.
Menyukaimu memang semudah itu. Tapi di saat yang sama, saya juga harus menerima kenyataan bahwa bersama dengan kamu tidak akan mudah. Menyadari perasaan saya, pelan-pelan saya masuk ke dalam semua hal tentang kamu. Awalnya saya pikir akan mampu, namun semakin saya coba untuk mempelajari kamu, saya malah menemukan dinding pembatas yang tinggi memisahkan perbedaan-perbedaan kontras di antara kita. Saya dengan dunia saya, kamu dengan duniamu. Saya yang kaku dan kamu yang flexible. Saya dengan circle persahabatan saya dan kamu dengan circle persahabatanmu. Saya terlalu ragu dengan ritme yang muncul nantinya; apa iya kita akan meninggalkan diri sendiri sejenak untuk mampu menyelami satu sama lain?
Tentu saja saya ingin memenangkan hatimu. Membuat kamu membuka hati dan membalas perasaan saya. Tapi kadang perbedaan adalah bom waktu yang bisa meledak kapan pun dia mau dan garis batas antara ego dan penerimaan hanyalah setipis tissue.
Saya mengerti tidak bisa memaksakan kamu pada saya atau saya pada kamu. Saya hanya ingin jujur, mengakui, tanpa melawan apa yang saya rasakan dan sedikit lega dengan itu.
Kita tahu sesuatu tak akan bisa dipaksakan. Tapi setidaknya kita bisa jujur untuk membuat perasaan lebih baik.
Setelah hari itu kamu tidak henti-hentinya memenuhi kepala saya, saya tidak cukup bodoh menyadari kalau memang iya saya punya perasaan khusus terhadap kamu. Setelah tiga tahun, merasakan kembali mempunyai seseorang yang mengisi hati jadi terasa lucu; Tiba-tiba saya menemukan diri saya ingin berada di ruangan yang sama dengan ruanganmu ketika jam kerja. Kesempatan saya melihat kamu adalah waktu yang....saya rela meninggalkan kesibukan saya sejenak hanya untuk melihat sepintas kamu. Bertemu malu, tidak bertemu rindu.
Menyukaimu memang semudah itu. Tapi di saat yang sama, saya juga harus menerima kenyataan bahwa bersama dengan kamu tidak akan mudah. Menyadari perasaan saya, pelan-pelan saya masuk ke dalam semua hal tentang kamu. Awalnya saya pikir akan mampu, namun semakin saya coba untuk mempelajari kamu, saya malah menemukan dinding pembatas yang tinggi memisahkan perbedaan-perbedaan kontras di antara kita. Saya dengan dunia saya, kamu dengan duniamu. Saya yang kaku dan kamu yang flexible. Saya dengan circle persahabatan saya dan kamu dengan circle persahabatanmu. Saya terlalu ragu dengan ritme yang muncul nantinya; apa iya kita akan meninggalkan diri sendiri sejenak untuk mampu menyelami satu sama lain?
Tentu saja saya ingin memenangkan hatimu. Membuat kamu membuka hati dan membalas perasaan saya. Tapi kadang perbedaan adalah bom waktu yang bisa meledak kapan pun dia mau dan garis batas antara ego dan penerimaan hanyalah setipis tissue.
Saya mengerti tidak bisa memaksakan kamu pada saya atau saya pada kamu. Saya hanya ingin jujur, mengakui, tanpa melawan apa yang saya rasakan dan sedikit lega dengan itu.
Comments
Post a Comment