Skip to main content

Sebuah Tulisan Sebagai Penggemar Kereta Api

Siapa yang lebih suka bepergian naik kereta daripada naik pesawat?

Jika tidak ada urusan mendesak dan tujuannya santai, maka saya akan dengan senang hati memilih naik kereta ketimbang pesawat, seperti saat mudik lebaran kemarin. Saya memang sudah menyiapkan waktu jauh-jauh hari supaya bisa pulang ke Solo dengan kereta. Saya excited banget, setiap hari biasanya selalu cepat dan buru-buru karena urusan pekerjaan, kali ini bisa libur dan menyediakan waktu untuk menikmati perjalanan mudik naik kereta.

Sebagai penggemar kereta api (((penggemar kereta api))), saya pengen share hal-hal yang saya sukai ketika bepergian dengan kereta:


👍 Duduk di kursi yang dekat jendela
    Kalau masih banyak pilihan seat, saya selalu pilih seat yang dekat dengan jendela. Karena apa? Karena saya suka banget menikmati pemandangan di luar selagi perjalanan. Sebagai sarana refleksi juga, bisa lihat pemandangan sawah, sungai dan pedesaan yang tidak ditemukan setiap hari; menikmati pemandangan sambil merenung atau sekadar menyejukkan mata saja. 

   Kalau kedapatan jam kereta yang malam, kita bisa memanfaatkan waktu selama perjalanan untuk istirahat sejenak. 

👍Bepergian yang santai
   Walaupun cukup memakan waktu, tapi bagi saya bepergian dengan kereta terasa lebih relax. Sembari menuju ke stasiun kota tujuan, kita bisa menghabiskan waktu mungkin dengan membaca atau  mendengarkan lagu favorit dari ponsel. Kalau masih punya energi, bisa membuka percakapan dengan orang di samping kita, bertukar cerita sehingga perjalanan tidak membosankan, dan lagi berpotensi mendapatkan teman baru.

👍Nasi Goreng Parahyangan
   Ini adalah bagian paling favorit! Saya suka banget makan nasi goreng di kereta. Nasgor yang dijual di restorasi KAI adalah Nasi Goreng Parahyangan, yaitu nasi goreng yang ada lauk telur mata sapi (telurnya ini enak banget, luarnya masih putih tapi dalemnya mateng) dan  satu potong ayam goreng bagian tepong atau dada plus kerupuk bawang. Beberapa kali naik kereta pasti selalu beli Nasi Goreng Parahyangan. Dan sebenernya, salah satu alasan saya naik kereta supaya bisa makan nasi gorengnya sih ...

seistimewa itu nasi goreng KAI?

   Rasanya biasa aja,  yah bukan yang enak banget tapi juga bukan nggak enak. Entah, suka aja sama Nasi Goreng Parahyangan KAI. Selain nasi goreng, ada juga menu rice box lain, cuman saya ngga begitu ngeh namanya apa-apa aja. Dulu pernah coba Nasi Terik Daging juga, cuman sekali itu aja. Karena yang paling nikmat dan ngangenin...Tetep nasi gorengnya!  

👍Stop Kontak
   Termasuk fasilitas yang penting, menurut saya. Saya sendiri bukan termasuk orang yang suka charge ponsel pakai power bank. Jadi, dengan adanya stop kontak di dekat seat saya nggak khawatir bakal low bat atau tiba di stasiun pas keadaan batere nggak full. Toh saya masih bisa charge selama perjalanan :p

👍No Macet-Macet Club
    Salah satu enaknya naik kereta, kita ga perlu kejebak macet; tidak seperti transportasi darat lain yang tergantung dengan lalu lintas sekitarnya, kereta punya jalur sendiri; jalan menurut rel-nya dan tidak perlu berebut dengan kendaraan lain.

Oh iya, untuk memaksimalkan (((memaksimalkan))) berkereta, saya sarankan di saat yang bukan kita sedang terburu-buru atau mengejar sesuatu yang urgent. Karena kalo kita sedang terbeban sesuatu, bisa mengganggu ketenangan dalam perjalanan. kebayang kan, misal kita resah atau gelisah mikirin pekerjaan yang belum selesai....

Jadi, kalian team pesawat atau kereta api nih?



Comments

Popular posts from this blog

Seperti Apa Rupa Cinta

Seperti apa rupa cinta? Kau kemudian menyinggung tentang rumahmu di kampung halaman, tempat segala sesuatu berawal. Kau menceritakan bagaimana seorang bayi memulai kehidupan dari gendongan Ibunya hingga Ia beranjak pergi menghadapi sendiri dunia nyata.   Lalu apakah cinta adalah sepasang tangan yang menimangmu di hari pertama kau datang ke dunia dan merawatmu hingga hari ini kau berada? Kau meninggalkan rumah dan pergi mencari jawaban ke kota-kota besar, mulai berkenalan dengan segala kesibukan dan kesenangan yang membuatmu jarang pulang.  Sesekali kau memberi kabar singkat Ibumu dan menerima doa-doa baik sebagai jawaban.  Di lain waktu, kesempatan membawamu ke tempat yang lebih tinggi. Kau bisa menikmati segala indah dan gemerlap yang ada di bawah sana, lebih luas dari yang sebelumnya bisa kau jangkau. Kini, jangankan pulang, kabarmu seringkali hanya menjadi kemungkinan belaka. Dalam perjalanan hidup, tahun-tahun berlalu semakin membentuk matang dirimu.  Kau me...

Precipice

Of all days in August Of all the random talks Of all the time we spent amidst your busy schedule Of all the unspoken words during our lunch together Of all the unsent messages of  "how was your day?" Going deeper into the detached connection and affection,  the missing  profound and meaningful conversation, the endless emptiness and pain, and every hug and touch that should've felt like coming home Now, for  the thousand times, still leaves me wondering  if every relationship has its own precipice, what kind of precipice is manifesting ours? Kelapa Gading, 4th September 2023 When August slipped away into a moment in time and you weren't mine to lose

2:1

Betapa aneh ingatan itu tiba-tiba ia memantik kenangan  di masa lalu. Sudah lama bukan,  waktu kita saling berbagi hari? Waktu kumulai pagiku  dengan menyeduhkanmu kopi; rutinitas yang bukan hanya kuhapal dalam kepala tapi juga dalam hati. Selalu dua banding satu,  takaran kopi dan gulamu.  Selalu bertambah satu,  beban ingatanku melupakanmu.  Jakarta, 3 September