Selama kurang lebih enam bulan, dunia sedang dilanda wabah penyakit global, Covid-19. Selain peperangan dengan virus yang sangat mudah menyebar dan menyebabkan banyak korban, kegiatan ekonomi pun kena dampaknya. Tidak sedikit bisnis yang tutup bahkan tak lagi mampu beroperasi hingga harus merumahkan para pegawainya.
Pada hotel tempat saya bekerja, sejak covid ditetapkan sebagai pandemi dan masuk ke indonesia, occupancy kami merosot drastis hingga harus melakukan efisiensi dan pengurangan karyawan (...akhirnya, pada bulan agustus). Tidak bisa dipungkiri saat ini adalah waktu yang amat berat salah satunya bagi bidang pariwisata dan perhotelan. Meski pun karena beberapa pertimbangan saya tidak kena pemotongan gaji hingga hari ini, tidak membuat saya merasa tenang begitu saja--yah saya bersyukur masih bisa bekerja dengan dibayar penuh setiap bulan, tapi tentu perasaan khawatir itu tidak bisa dihindarkan.
Kira-kira kapan yah badai ini berlalu?
Sampai kapan yah perusahaan tempat saya bekerja bisa bertahan dengan keadaan ini?
Bagaimana kalau ini tidak segera berakhir, dan saya tidak lagi bisa bekerja seperti sekarang?
Terus terang, itu lah isi kekhawatiran saya beberapa hari belakangan. Tuhan baik pada saya. Selalu baik sampai hari ini. Saya masih dipercayakan rejeki yang cukup untuk menghidupi setiap hari.
Lucu sekali, bukan? Bagaimana Saya bisa mengucap syukur pada Tuhan di saat yang sama saya menyimpan kekhawatiran dalam pikiran?
Kemarin, setelah tanpa sengaja menyuarakan perasaan saya ketika bertelepon dengan rekan kerja, dia bilang "apa yang bisa dilakukan kekhawatiranmu?"
Iya sih, apa yang bisa dilakukan dengan kita merasa khawatir?
Tahun ini adalah ujian bagi sebagian besar orang. Langkah yang berat agar perut bisa selalu terisi dan kewarasan tetap pada keseimbangan yang baik.
Perairan kita sama, teman-teman. Perahu kita yang berbeda. Tapi lebih daripada itu, apa pun yang saat ini kita hadapi, melakukan yang terbaik selagi bisa adalah sebaik-baiknya perjuangan.
Comments
Post a Comment