![]() |
| Pic. fr: Google search |
"Kamu Apa kabar?"
"Baik. Kalau kamu apa kabar?"
"Biasa aja, nih."
"Jadi, sedang baik atau tidak baik?"
"Hahaha ..maksudku, sedang tidak ada hal menarik terjadi di hidupku."
"Tidak ada? setelah dia?"
"Bukan melulu segala suatu hal dia jadi penyebab satu-satunya, tapi ya memang ada yang berbeda di hari-hariku setelah nggak lagi sama dia."
"Jadi?"
"Aku baik-baik saja."
"Syukurlah kalau begitu."
"....."
"....."
"Kamu sendiri, gimana dengan pria yang terakhir kali kamu ceritakan?"
"Tidak ada yang berubah."
"Kamu masih mengharapkannya?"
"Bukan. Maksudku, kami tetap berpisah."
"Hahahaha....sinting."
"Dih, ngatain."
"Kalau begitu posisinya di hatimu sudah bergeser?"
"Tentu. Seiring berjalannya waktu."
"Kamu sudah melupakannya?"
"Kecuali jika aku amnesia, aku tidak bisa begitu saja lupa."
"Ah kamu, bukan itu yang aku maksud."
"Hihihi..aku tau. Hmmm...move on bukan sesederhana melupakan, tapi bagaimana seseorang sembuh dari luka."
"Kamu sudah sembuh dari luka itu?"
"Kalau belum, mungkin aku masih sambil menangis menceritakannya padamu."
"Ck, jadi sudah atau--"
"Sudah."
"Sudah melupakannya?"
"Kamu mulai menyebalkan, ya. Yang jelas, aku tidak lagi menanti-nantikan dia seperti dulu."
"Kalau begitu, besok dan seterusnya jangan lagi kamu nanti-nantikan dia."
"...."
"Aku serius."
"Iya."
"Kenapa kamu masih sering menulis tentang dia?"
"Kata siapa?"
"Kataku barusan"
"Kamu juga masih memasang foto berdua dengan dia, kan, di media sosialmu"
"Ah, menyebalkan"
"...."
"Aku...Kalau boleh...."
"Apa?"
"Apakah bisa besok dan seterusnya aku saja yang kamu nanti-nantikan?"
"Hah?"
"Bukan..bukan..bukan...maksudku, aku ingin menjadi seseorang yang ada untuk kamu dan bisa kamu andalkan. Boleh?"
"Hmmmm...."
"Hmmmm????"
"Berusahalah untuk tidak mematahkan hatiku."
"Jangan patahkan hatiku juga."
"Iya"
"Jadi?"
"Boleh."
"Yes!"
***
"Kenapa kamu bisa berpikir semua tulisanku adalah tentang dia?"
"Ceritanya mirip, seperti kamu sedang mencurahkan isi hatimu."
"Kuakui beberapa memang iya, tapi tidak semuanya. Dia tidak seistimewa itu sampai aku menjadikannya pusat di semua bait dan paragraf yang kubuat. Selain itu, menulis berperan besar dalam membantuku berdamai dengan kesedihan."
"Mulai hari ini menulislah tentang aku. "
"Lho kok kamu ngatur?"
"Kalau begitu sesukamu. "
"Apa kamu juga berencana tetap memasang foto berdua dengan gadis itu?"
"Bisa diatur. Ayo foto bersama, supaya aku bisa segera mengganti foto profil di media sosialku. "
Kisah baru dimulai. Semoga kali ini tidak ada hati yang patah dan harus menyembuhkan diri lagi.

Comments
Post a Comment