Selamat pagi Kamu yang di sana,
Sengaja tak Kutanyakan kabar karena Aku tahu kamu pasti baik-baik saja. Semoga Aku tidak salah ya...
Yah kalaupun Aku salah, mengutip Raisa dalam salah satu lagunya, "benar atau salah kini tiada lagi berarti."
Hari ini aku kembali menulis untukmu karena di luar sedang turun hujan. Aku bahkan tak tahu apa korelasinya, mungkin lain kali Aku akan berusaha lebih kreatif.
Setiap pagi hariku masih seperti biasa, menyapa dengan cerita yang ada-ada saja. Kadang aku mengomel, seperti yang kamu sering dengar dulu. Kadang aku tertawa karena candaan receh, kadang bersedih, kadang hanya terdiam dan kadang masih merindukanmu. Untuk yang terakhir itu aku pernah bersikeras menepisnya, tapi kamu malah muncul di mana-mana; sia-sia.
Aku pernah membaca bahwa kesedihan dan kehilangan, bagaimanapun tidak dapat mengembalikan hidup seperti semula, ke timeline sebelum dua atau salah satu hal tersebut terjadi. Seiring waktu, seseorang akan berdamai dan rasa sakitnya hanya akan berkurang. Begitu kira-kira intinya. Aku membenarkan, meskipun belum sepenuhnya menerima.
Kalau melawan adalah hal yang sia-sia, maka kubiarkan kamu muncul di mana-mana. Kubiarkan kamu menyapaku dalam mimpi dan dalam segala hal yang menambatkan sosokmu disekitarku. Sebab hidup tak berhenti hanya karena aku kehilangan, jadi mungkin menghadapimu dan diriku sendiri akan mengentaskan semua permasalahan ingatan yang berbau kamu.
Sesekali, aku pernah tersesat di belantara kenyataan dan ketiadaan yang kuciptakan sendiri. Celengan rinduku pecah di waktu yang tak tepat, perasaanku berhamburan.
Sesekali, aku pernah menginjakkan kaki di tempat dulu kita sering menghabiskan waktu. Duduk di kursi yang sama sambil menyesap butterscotch coffee, minuman yang kamu pesan di kencan terakhir kita.
Semalam, bagaimana pun aku menghindari, aku menemukan fotomu di media sosial berdampingan dengan orang yang kamu cintai. Kukira jantungku masih akan berdebar seperti yang sudah-sudah. Tapi melihatmu tersenyum seperti itu, aku menyesalkan hal yang tak kulakukan sejak awal; turut merayakan kebahagiaanmu.
Maka berbahagialah, karena aku juga menginginkan hal yang sama untuk diriku sendiri.
Comments
Post a Comment