Skip to main content

Berdamai dengan Luka

Selamat pagi Kamu yang  di sana, 

Sengaja tak Kutanyakan kabar karena Aku tahu kamu pasti baik-baik saja. Semoga Aku tidak salah ya...

Yah kalaupun Aku salah, mengutip Raisa dalam salah satu lagunya, "benar atau salah kini tiada lagi berarti."

Hari ini aku kembali menulis untukmu karena di luar sedang turun hujan. Aku bahkan tak tahu apa korelasinya, mungkin lain kali Aku akan berusaha lebih kreatif. 

Setiap pagi hariku masih seperti biasa, menyapa dengan cerita yang ada-ada saja. Kadang aku mengomel, seperti yang kamu sering dengar dulu. Kadang aku tertawa karena candaan receh, kadang bersedih, kadang hanya terdiam dan kadang masih merindukanmu. Untuk yang terakhir itu aku pernah bersikeras menepisnya, tapi kamu malah muncul di mana-mana; sia-sia. 

Aku pernah membaca bahwa kesedihan dan kehilangan, bagaimanapun tidak dapat mengembalikan hidup seperti semula, ke timeline sebelum dua atau salah satu hal tersebut terjadi. Seiring waktu, seseorang akan berdamai dan rasa sakitnya hanya akan berkurang. Begitu kira-kira intinya. Aku membenarkan, meskipun belum sepenuhnya menerima. 

Kalau melawan adalah hal yang sia-sia,  maka kubiarkan kamu muncul di mana-mana. Kubiarkan kamu menyapaku dalam mimpi dan dalam segala hal yang menambatkan sosokmu disekitarku. Sebab hidup tak berhenti hanya karena aku kehilangan, jadi mungkin menghadapimu dan diriku sendiri akan mengentaskan semua permasalahan ingatan yang berbau kamu.

Sesekali, aku pernah tersesat di belantara kenyataan dan ketiadaan yang kuciptakan sendiri. Celengan rinduku pecah di waktu yang tak tepat, perasaanku berhamburan. 

Sesekali, aku pernah menginjakkan kaki di tempat dulu kita sering menghabiskan waktu. Duduk di kursi yang sama sambil menyesap butterscotch coffee, minuman yang kamu pesan di kencan terakhir kita. 

Semalam, bagaimana pun aku menghindari, aku menemukan fotomu di media sosial berdampingan dengan orang yang kamu cintai. Kukira jantungku masih akan berdebar seperti yang sudah-sudah. Tapi melihatmu tersenyum seperti itu, aku menyesalkan hal yang tak kulakukan sejak awal; turut merayakan kebahagiaanmu. 

Maka berbahagialah, karena aku juga menginginkan hal yang sama untuk diriku sendiri. 


 


 


 

 

Comments

Popular posts from this blog

Seperti Apa Rupa Cinta

Seperti apa rupa cinta? Kau kemudian menyinggung tentang rumahmu di kampung halaman, tempat segala sesuatu berawal. Kau menceritakan bagaimana seorang bayi memulai kehidupan dari gendongan Ibunya hingga Ia beranjak pergi menghadapi sendiri dunia nyata.   Lalu apakah cinta adalah sepasang tangan yang menimangmu di hari pertama kau datang ke dunia dan merawatmu hingga hari ini kau berada? Kau meninggalkan rumah dan pergi mencari jawaban ke kota-kota besar, mulai berkenalan dengan segala kesibukan dan kesenangan yang membuatmu jarang pulang.  Sesekali kau memberi kabar singkat Ibumu dan menerima doa-doa baik sebagai jawaban.  Di lain waktu, kesempatan membawamu ke tempat yang lebih tinggi. Kau bisa menikmati segala indah dan gemerlap yang ada di bawah sana, lebih luas dari yang sebelumnya bisa kau jangkau. Kini, jangankan pulang, kabarmu seringkali hanya menjadi kemungkinan belaka. Dalam perjalanan hidup, tahun-tahun berlalu semakin membentuk matang dirimu.  Kau me...

Precipice

Of all days in August Of all the random talks Of all the time we spent amidst your busy schedule Of all the unspoken words during our lunch together Of all the unsent messages of  "how was your day?" Going deeper into the detached connection and affection,  the missing  profound and meaningful conversation, the endless emptiness and pain, and every hug and touch that should've felt like coming home Now, for  the thousand times, still leaves me wondering  if every relationship has its own precipice, what kind of precipice is manifesting ours? Kelapa Gading, 4th September 2023 When August slipped away into a moment in time and you weren't mine to lose

2:1

Betapa aneh ingatan itu tiba-tiba ia memantik kenangan  di masa lalu. Sudah lama bukan,  waktu kita saling berbagi hari? Waktu kumulai pagiku  dengan menyeduhkanmu kopi; rutinitas yang bukan hanya kuhapal dalam kepala tapi juga dalam hati. Selalu dua banding satu,  takaran kopi dan gulamu.  Selalu bertambah satu,  beban ingatanku melupakanmu.  Jakarta, 3 September