Bukan kamu yang salah membuatku menganggapmu istimewa. Bukan juga waktu saat kita bersama-sama dan kukira kamu sama bahagianya.
Kamu datang dan ada ruang kosong dihatiku yang menemukan dunia baru. Aku terpikat pada sederhana dan rasa nyaman yang terpancar setiap kali kita bertemu. Tanpa sadar, aku menjadikanmu pusat tak peduli dengan diriku yang mungkin saja tersesat.
Lalu saat semua kurasa akan baik-baik saja, kamu pergi dan lagi-lagi perpisahan itu tak terhindarkan; meninggalkan duniamu yang tercipta dalam seorang aku. Setelah itu, hidup semata-mata hanya proses respirasi pernapasan.
Kamu ada di mana-mana dan hampa ini terdengar lebih keras gaungnya. Kamu terasa dekat bahkan kita tak lagi bersama-sama. Kamu masih ada bahkan dalam mata terpejam; Walau hanya mimpi aku tak berani membayangkan hatiku akan patah berkali-kali.
Comments
Post a Comment