Skip to main content

Mimpi

Bukan kamu yang salah membuatku menganggapmu istimewa. Bukan juga waktu saat kita bersama-sama dan kukira kamu sama bahagianya. 

Kamu datang dan ada ruang kosong dihatiku yang menemukan dunia baru. Aku terpikat pada sederhana dan rasa nyaman yang terpancar setiap kali kita bertemu. Tanpa sadar, aku menjadikanmu pusat tak peduli dengan diriku yang mungkin saja tersesat. 

Lalu saat semua kurasa akan baik-baik saja,  kamu pergi dan lagi-lagi perpisahan itu tak terhindarkan; meninggalkan duniamu yang tercipta dalam seorang aku. Setelah itu, hidup semata-mata hanya proses respirasi pernapasan.  

Kamu ada di mana-mana dan hampa ini terdengar lebih keras gaungnya. Kamu terasa dekat bahkan kita tak lagi bersama-sama. Kamu masih ada bahkan dalam mata terpejam;  Walau hanya mimpi aku tak berani membayangkan hatiku akan patah berkali-kali. 

Comments

Popular posts from this blog

Seperti Apa Rupa Cinta

Seperti apa rupa cinta? Kau kemudian menyinggung tentang rumahmu di kampung halaman, tempat segala sesuatu berawal. Kau menceritakan bagaimana seorang bayi memulai kehidupan dari gendongan Ibunya hingga Ia beranjak pergi menghadapi sendiri dunia nyata.   Lalu apakah cinta adalah sepasang tangan yang menimangmu di hari pertama kau datang ke dunia dan merawatmu hingga hari ini kau berada? Kau meninggalkan rumah dan pergi mencari jawaban ke kota-kota besar, mulai berkenalan dengan segala kesibukan dan kesenangan yang membuatmu jarang pulang.  Sesekali kau memberi kabar singkat Ibumu dan menerima doa-doa baik sebagai jawaban.  Di lain waktu, kesempatan membawamu ke tempat yang lebih tinggi. Kau bisa menikmati segala indah dan gemerlap yang ada di bawah sana, lebih luas dari yang sebelumnya bisa kau jangkau. Kini, jangankan pulang, kabarmu seringkali hanya menjadi kemungkinan belaka. Dalam perjalanan hidup, tahun-tahun berlalu semakin membentuk matang dirimu.  Kau me...

Precipice

Of all days in August Of all the random talks Of all the time we spent amidst your busy schedule Of all the unspoken words during our lunch together Of all the unsent messages of  "how was your day?" Going deeper into the detached connection and affection,  the missing  profound and meaningful conversation, the endless emptiness and pain, and every hug and touch that should've felt like coming home Now, for  the thousand times, still leaves me wondering  if every relationship has its own precipice, what kind of precipice is manifesting ours? Kelapa Gading, 4th September 2023 When August slipped away into a moment in time and you weren't mine to lose

2:1

Betapa aneh ingatan itu tiba-tiba ia memantik kenangan  di masa lalu. Sudah lama bukan,  waktu kita saling berbagi hari? Waktu kumulai pagiku  dengan menyeduhkanmu kopi; rutinitas yang bukan hanya kuhapal dalam kepala tapi juga dalam hati. Selalu dua banding satu,  takaran kopi dan gulamu.  Selalu bertambah satu,  beban ingatanku melupakanmu.  Jakarta, 3 September