Skip to main content

Patah

Kalau dari apa yang kita tulis dan pikirkan bisa menjadi kenyataan, maka biarlah aku menggantungkan sekecil-kecilnya harapan pada kemungkinan itu. Aku akan menuliskan tentangmu, memikirkan tentangmu, supaya kamu bisa ada di sini. 

Sebab sekarang, tak ada yang lebih baik yang bisa kulakukan selain menuliskan betapa aku merindukanmu, tak habis- habis setiap hari. Sebab sekarang, tak ada yang lebih baik yang bisa kulakukan selain memikirkan apa saja yang akan kulakukan kalau kamu kembali di sini. 

Masih kudoakan tiap-tiap malam supaya dilunakkan Tuhan keras hatimu,  Dialah Yang Maha membolak-balikkan hati manusia dan semoga kamulah yang diciptakan-Nya untukku. Semoga jarak dan waktu ini hanya sementara dan perpisahan kita tak selamanya. 

Semoga bila tidak dengan kamu, Tuhan tolong jaga aku dari patah hati yang lebih dari yang pernah kualami.


Comments

Popular posts from this blog

Seperti Apa Rupa Cinta

Seperti apa rupa cinta? Kau kemudian menyinggung tentang rumahmu di kampung halaman, tempat segala sesuatu berawal. Kau menceritakan bagaimana seorang bayi memulai kehidupan dari gendongan Ibunya hingga Ia beranjak pergi menghadapi sendiri dunia nyata.   Lalu apakah cinta adalah sepasang tangan yang menimangmu di hari pertama kau datang ke dunia dan merawatmu hingga hari ini kau berada? Kau meninggalkan rumah dan pergi mencari jawaban ke kota-kota besar, mulai berkenalan dengan segala kesibukan dan kesenangan yang membuatmu jarang pulang.  Sesekali kau memberi kabar singkat Ibumu dan menerima doa-doa baik sebagai jawaban.  Di lain waktu, kesempatan membawamu ke tempat yang lebih tinggi. Kau bisa menikmati segala indah dan gemerlap yang ada di bawah sana, lebih luas dari yang sebelumnya bisa kau jangkau. Kini, jangankan pulang, kabarmu seringkali hanya menjadi kemungkinan belaka. Dalam perjalanan hidup, tahun-tahun berlalu semakin membentuk matang dirimu.  Kau me...

Precipice

Of all days in August Of all the random talks Of all the time we spent amidst your busy schedule Of all the unspoken words during our lunch together Of all the unsent messages of  "how was your day?" Going deeper into the detached connection and affection,  the missing  profound and meaningful conversation, the endless emptiness and pain, and every hug and touch that should've felt like coming home Now, for  the thousand times, still leaves me wondering  if every relationship has its own precipice, what kind of precipice is manifesting ours? Kelapa Gading, 4th September 2023 When August slipped away into a moment in time and you weren't mine to lose

2:1

Betapa aneh ingatan itu tiba-tiba ia memantik kenangan  di masa lalu. Sudah lama bukan,  waktu kita saling berbagi hari? Waktu kumulai pagiku  dengan menyeduhkanmu kopi; rutinitas yang bukan hanya kuhapal dalam kepala tapi juga dalam hati. Selalu dua banding satu,  takaran kopi dan gulamu.  Selalu bertambah satu,  beban ingatanku melupakanmu.  Jakarta, 3 September