Skip to main content

Inta's Graduation

Di bawah langit putih memplak-memplak (jangan nanya artinya yah...) dan hujan gerimis tipis yang kadang deres, hari ini salah satu dari kami berlima telah "mengawali" teman-teman lainnya diwisuda...

Inta akhirnya lulus setelah menyelesaikan kuliahnya yang relatif cepat, selama tiga setengah tahun. Selain mengucapkan selamat, saya bilang juga ke dia tadi "In, ini untung kamu yang diwisuda aku bela-belain dateng, kalo bukan kamu mah..aku milih tidur di kosan :D :D :D" kata-kata jahat saya ini kemudian dibalas dengan satu cengiran cantik di bibirnya. 



Habisnya nih ya, tadi rada perjuangan mau ketemu si Inta. Udah dari rumah Witta siap-siap dandan cantik pake baju bagus, eh mau berangkat hujan dong....habis itu sampe di kampus masih nyari -nyari dianya yang entah dimana. Yang katanya di Balairung lah, lapangan basket lah. Akhirnya ketemu juga manusia satu ini di Gedung Administrasi Pusat.....

dalam episode " foto adalah salah satu upaya agar tertular"

Jadi, perempuan cantik nan sudah sarjana ini, selain dia adalah teman rumpi saya, dia juga tetangga kosan saya selama 3 tahun. Dulu, saya sering banget ngerecokin dia, mulai dari bikin tugas yang berakhir cuman numpang tidur di kamarnya, sampe dateng-dateng ga jelas cuman gara-gara pengen curhat. Kami sering tugas kelompokan bareng, walaupun secara logika memang sebaiknya kami tidak satu kelompok. Karena apa? Karena ketika kami satu kelompok itu artinya tugas akan selesai 4 jam sebelum deadline pengumpulan atau presentasi.  Ada beberapa kelas di jam 7 pagi, malam sebelumnya kami habiskan dengan ngerumpi hingga subuh, kemudian tidur, berangkat terburu-buru, bisa selamat berkat toleransi 15 menit keterlambatan. Dan kami pernah bangga sekali memiliki kebiasaan buruk ini (btw ini baru sebagian kecilnya loh ya....sebagian kecil).

Oh iya, inta ini kalo soal jatah kamar kost kelihatannya hokinya kurang. Selama 3 tahun ngekost di tempat yang sama, saya pindah kamar hanya sekali karena renovasi, dia udah 3 atau mungkin 4 kali. Salah satu alasan yang masih melekat kenangannya sampe sekarang adalah waktu Salatiga hujan deres banget, kamarnya dia entah lah apa-apaan bocor di semua sisi. Bocornya itu kek air terjun sampe akhirnya kamar dia banjir. Alhasil waktu itu malem-malem kami berdua pindahin barangnya ngungsi ke kamar yang masih kosong...nelangsa emang. 

Lagi bersaing kecantikan


Menarik ingatan ke beberapa waktu lalu, kami berdua masih beberapa kali sempat ngabisin waktu ngobrol di kamarnya Inta. Karena obrolan dengan dia juga lahirlah judul dan beberapa kalimat untuk Bab I di skripsi saya. Setelah itu, lama tidak sering berkabar, frekuensi bertemu juga sudah sangat berkurang karena sibuk urusan masing-masing. Dia dengan skripsinya dia, saya masih kadang nganggur dan nyicil proposal kalo lagi mau..eh....udah selesai aja nih anak.




As she ever told me after her graduation "yang nentuin cepet atau lamanya lulus itu bukan pinter enggaknya mahasiswa, tapi rajin atau nggak. Pinter doang kalo orangnya males yah ga bakal kelar-kelar" And she proves it!

Welcome to the  jungle! May the luck be with you!





Comments

Popular posts from this blog

Seperti Apa Rupa Cinta

Seperti apa rupa cinta? Kau kemudian menyinggung tentang rumahmu di kampung halaman, tempat segala sesuatu berawal. Kau menceritakan bagaimana seorang bayi memulai kehidupan dari gendongan Ibunya hingga Ia beranjak pergi menghadapi sendiri dunia nyata.   Lalu apakah cinta adalah sepasang tangan yang menimangmu di hari pertama kau datang ke dunia dan merawatmu hingga hari ini kau berada? Kau meninggalkan rumah dan pergi mencari jawaban ke kota-kota besar, mulai berkenalan dengan segala kesibukan dan kesenangan yang membuatmu jarang pulang.  Sesekali kau memberi kabar singkat Ibumu dan menerima doa-doa baik sebagai jawaban.  Di lain waktu, kesempatan membawamu ke tempat yang lebih tinggi. Kau bisa menikmati segala indah dan gemerlap yang ada di bawah sana, lebih luas dari yang sebelumnya bisa kau jangkau. Kini, jangankan pulang, kabarmu seringkali hanya menjadi kemungkinan belaka. Dalam perjalanan hidup, tahun-tahun berlalu semakin membentuk matang dirimu.  Kau me...

Precipice

Of all days in August Of all the random talks Of all the time we spent amidst your busy schedule Of all the unspoken words during our lunch together Of all the unsent messages of  "how was your day?" Going deeper into the detached connection and affection,  the missing  profound and meaningful conversation, the endless emptiness and pain, and every hug and touch that should've felt like coming home Now, for  the thousand times, still leaves me wondering  if every relationship has its own precipice, what kind of precipice is manifesting ours? Kelapa Gading, 4th September 2023 When August slipped away into a moment in time and you weren't mine to lose

2:1

Betapa aneh ingatan itu tiba-tiba ia memantik kenangan  di masa lalu. Sudah lama bukan,  waktu kita saling berbagi hari? Waktu kumulai pagiku  dengan menyeduhkanmu kopi; rutinitas yang bukan hanya kuhapal dalam kepala tapi juga dalam hati. Selalu dua banding satu,  takaran kopi dan gulamu.  Selalu bertambah satu,  beban ingatanku melupakanmu.  Jakarta, 3 September